Musim Giling Telah Tiba, Petani Minta Harga Baru Patokan Gula

Musim Giling Tebu

Kabar Berita – Mojokerto, 13 Mei 2015
Sejumlah pabrik gula (PG) PTPN X memasuki musim giling di Mei 2015. Namun, sampai saat ini pemerintah belum menetapkan harga patokan petani (HPP) gula kristal putih (GKP) 2015.
Panen Tebu
Petani yang masih trauma dengan anjloknya harga gula tahun lalu, kini mendesak Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel agar segera menetapkan HPP pada kisaran Rp 9.000-9.750 per Kg. Harga Patokan Petani (HPP) saat ini sebesar Rp 8.500 per Kg.

Desakan itu salah satunya muncul dari Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) PG Gempolkrep, Mojokerto. Mulai 17 Mei 2015 mendatang, tebu petani dari wilayah Mojokerto, Jombang, dan Lamongan itu siap digiling di pabrik-pabrik gula. Sedangkan periode lelang gula pertama bakal berlangsung 15 hari kemudian atau awal Juni.

Sayangnya, hingga kini Mendag belum juga menetapkan HPP gula kristal putih tahun 2015. Hal itu membuat para petani resah. Petani khawatir, belum adanya regulasi yang mengatur harga dasar gula petani itu bakal membuat harga kembali anjlok seperti tahun lalu.

“Harga dasar gula belum ditentukan. Kemarin petani mengajukan kepada pemerintah Rp 9.750. Namun, sebelum lelang periode pertama mudah-mudahan sudah ada harga dasar. Sehingga apabila membutuhkan dana talangan sudah ada SK dari Menteri Perdagangan,” kata Ketua APTR PG Gempol Krep, Mubin di Mojokerto, Rabu (13/5/2015).

APTR PG Gempolkrep menaungi 30 koperasi petani tebu rakyat (KPTR). Musim giling tahun lalu, lanjut Mubin, petani tebu mengalami kerugian cukup besar. HPP gula kristal putih tahun 2014 yang ditetapkan pemerintah Rp 8.500 per Kg tak mampu mengangkat harga jual gula petani lantaran merembesnya gula rafinasi (gula impor) ke pasar.

Baca juga  Peringatan Bagi Penikmat Jengkol, Wajib Baca !

“Harga lelang Rp 7.765 per Kg, faktor banyaknya gula rafinasi yang merembes ke pasar. Kita tak bisa bersaing dengan harga gula rafinasi. Tahun 2014 para petani merugi 30 persen dari biaya produksi,” ungkapnya.

Mubin menuturkan, tahun lalu APTR Gempolkrep menyuplai sekitar 10 juta kwintal tebu. Target itu tak berubah untuk tahun ini. Kondisi curah hujan yang rendah, membuat petani tebu optimis rata-rata rendemen tahun ini akan meningkat dari 7,89 menjadi 8,3. Rendemen yang tinggi bakal meningkatkan produksi gula.

Kondisi yang menguntungkan petani ini, menurutnya harus didukung kebijakan pemerintah. Para petani berharap usulan HPP diatas Rp 9.000 per Kg segera direalisasikan oleh Mendag.

“Dengan harga dasar gula Rp 9.000, rendemen kami 7,8 saja tahun ini, harga tebu petani per kwintalnya Rp 5.300-5.400. Itu sudah diatas biaya yang kami keluarkan. Petani sudah dapat untung. Apabila lelang tahun ini dibawah harga dasar, dimohon pemerintah membeli gula produksi petani agar tidak terjadi seperti tahun lalu,” imbuhnya.

Dikonfirmasi usai tasyakuran buka giling di PG Gempolkrep, Direktur Utama PTPN X Subiyono mengatakan, sampai saat ini pihaknya masih menunggu nilai HPP yang tak kunjung ditetapkan Mendag.

“Kita tunggu saja HPP yang akan ditetapkan Mendag. Keseluruhan tebu yang akan kita giling sekitar 6,1 juta ton, target kami untuk gula mencapai 500 ribu ton. Iklim sudah mulai membaik, harga gula sudah merangkak naik,” tandasnya.

(Sumber : detik.com)

loading...