Mengendalikan Hama Oteng – Oteng (Kumbang Perusak Daun)

Cara Membasmi dan Pengendalian Hama Oteng-oteng

Hama & Penyakit – Hama Oteng-oteng atau Kutu Kuya (Aulocophora similis Oliver) merupakan kumbang perusak daun berukuran -/+ 1 cm dengan sayap berwarna kuning polos. Banyak petani yang menyebut Oteng-oteng dengan sebutan kunang-kunang. Padahal hama Oteng-oteng sama sekali tidak mirip dengan kunang-kunang. Namun kenyataannya begitulah, sebutan “kunang-kunang” populer dengan sendirinya. Oteng-oteng atau kutu kuya menyerang daun dengan memakan daun-daun muda hingga batang muda. Serangan parah dapat menyebabkan tanaman meranggas dengan menyisakan tulang daun hingga akhirnya mati.

Mengendalikan Hama Oteng-oteng

Oteng-oteng atau Kutu Kuya (Aulocophora similis Oliver)

Morfologi Hama Oteng-oteng

Hama Oteng-oteng berkembang biak dengan cara bertelur. Telur oteng-oteng biasanya diletakkan didalam tanah, daun dan sisa-sisa tanaman inang yang telah mati. Telur oteng-oteng berwarna putih dan berbentuk bulat lonjong. Larva oteng-oteng berwarna abu-abu kehitaman, agak gemuk dengan duri-duri dipermukaan tubuhnya. Oteng-oteng banyak dijumpai dilahan budidaya, terutama pada lahan budidaya tanaman terong, timun, cepokak, melon, gambas, labu dan semangka. Serangga imagonya memiliki tubuh yang relatif kecil, pendek dan gemuk. Memiliki warna kuning polos dan mengkilap. Kepalanya memiliki antena yang tidak terlalu panjang. Yang menarik, oteng-oteng sering berpura-pura mati jika disentuh atau didekati dan jika ada yang mengganggu. Perilaku tersebut dilakukan dengan cara menjatuhkan diri dari tanaman dan seolah-olah mati.

Gejala Serangan Hama Oteng-oteng

Hama oteng-oteng menyerang tanaman sejak berbentuk larva. Larva oteng-oteng menyerang akar dengan memakannya hingga tanaman menjadi layu dan akhirnya mati. Oteng – oteng dewasa memakan daging daun dan menyebabkan daun berlubang. Pada serangan berat, tanaman menjadi mati karena oteng-oteng memakan habis daun dan hanya tersisa tulang daunnya saja. Serangan berat terjadi pada tanaman muda, sejak tanaman tumbuh hingga usia sekitar 2 minggu. Tanaman dewasa kurang disukai hama ini.

Gejala serangan hama oteng-oteng

Serangan Hama Oteng-oteng

Teknis Pencegahan Serangan Hama Oteng-oteng

1. Pergiliran tanaman dengan tanaman lain yang bukan sejenis.
2. Tidak menanam pada lahan bekas tanaman terong, timun, cepokak, melon, gambas, labu dan semangka.
3. Tidak menanam pada lahan yang dekat dengan tanaman terong, timun, cepokak, melon, gambas, labu dan semangka.
4. Pengolahan lahan secara tepat.
5. Pembalikan tanah dan penjemuran selama -/+ 2 minggu sebelum tanam agar telur dan larva oteng-oteng mati.
6. Mencampur benih dengan nematisida sebelum ditanam, misalnya curater, pentakur, karbofuran, furadan atau petrofur.

Baca juga  Cara Mengendalikan Kutu Kebul (Bemisia Tabaci)

Cara Pengendalian Hama Oteng-oteng

1. Menaburkan nematisida pada pangkal batang segera setelah tanaman terlihat tumbuh.
3. Memungut oteng-oteng secara manual dan memusnahkannya.
4. Penyemprotan dengan insektisida, seperti regent, curacron, dursban atau matador
5. Penyemprotan dilakukan saat hama oteng-oteng aktif, yaitu pada pagi dan sore hari.

PERHATIAN !!!!

Penaburan nematisida sebaiknya hanya dilakukan pada saat tanaman baru tumbuh hingga tanaman berusia 10 HST. Karena nematisida bersifat sistemik yang dapat diserap oleh akar dan masuk keseluruh jaringan tanaman. Tanaman yang diperlakukan dengan nematisida akan beracun pada seluruh bagian tanaman, sehingga hama yang memakan daun akan langsung mati setelah memakannya. Pemberian nematisida sebaiknya sedikit saja dan jangan berlebihan. Pemberian nematisida menjelang tanaman berbunga “TIDAK DIANJURKAN” dan “SANGAT DILARANG” karena buah dan daun tanaman bisa mengandung racun yang “MEMATIKAN“.
Semoga bermanfaat…

Salam mitalom !!!

loading...
Loading...